Rabu, 28 Juli 2010

Sejarah Bowling PDF Print E-mail


Bowling sebenarnya termasuk olahraga tua, yaitu dikenal sekitar 7000 tahun yang silam dengan pembuktian para ahli yang menemukan dalam kuburan-kuburan tua Mesir Kuno. Permainan lempar melempar juga ditemui pada jaman Romawi, Phunicia dan Karthago namun bukti-bukti belumlah tersedia. Akan tetapi yang pasti pada tahun 1950 sebelum Masehi ketika Julius Caesar berkuasa, rakyat di daerah Alpine, Italia gandrung memainkan apa yang disebut “Bocce”.

Banyak nama untuk menyebutkan permainan itu kemudian, yaitu
Bowls Skittles, Kegling Nine Pin, Dutch Pin dan Quilles. Berdasarkan catatan, orang Jerman pertama yang memainkan Bowling dikaitkan dengan upacara Agama. makdsudnya ialah Kegle diibaratkan setan. Orang dipersilahkan menggunakan batu atau semacam bola yang tertuju pada Kegle, andaikata semua rubuh berarti kehidupannya bersih.

Abad ke 14, permainan Bowling terkenal di Inggris. Meskipun mendapat tantangan, bahkan raja Edward III mengeluarkan undang-undang untuk menghentikan permainan itu, tapi tak mampu menghambat. Tahun 1455 yang semula hanya dilakukan di lapangan beranjak ke gelanggang di bawah atap. Di Irlandia, Skotlandia dan pada tahun 1600 - an mulai dikenal di Amerika yang dibawa oleh orang - orang Belanda, bahkan pada tahun 1895 terbentuk organisasi Bowling Amerika (American Bowling Congress) dan kini peminat olahraga itu sekitar 10 juta orang. Kemajuan teknologi membawa perubahan besar dari Amerika Serikat menyebar ke benua Eropa dan pada tahun 1960 - an memasuki benua Asia Seperti Jepang, Philippina, Muangthai, Singapura dan pada tahun 1970 di Jakarta.

Bowling, nama asli olahraga yang mulai populer di Indonesia tahun 1970 ini. Tahun 1983 mulai diperkenalkan istilah dalam bahasa Indonesia dengan nama Bowling, yaitu singkatan dari bola gelinding oleh menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Achmad Thahir ketika menjadi ketua panitia kejuaraan Bowling antar klub memperebutkan piala Presiden Soeharto.

Ketika pertumbuhan ekonomi di Indonesia semakin mantap, di Hotel Kartika Plaza pada tahun 1970, tepatnya bulan Agustus dibuka sebuah pusat olahraga Bowling dengan 16 jalur (lines), mesin buatan Brunswick. Dalam waktu yang amat singkat, jenis permainan ini menarik banyak peminat dari berbagai kalangan pengusaha, pegawai, ABRI, mahasiswa, pelajar, bintang film dan ibu-ibu rumah tangga. Bermula dari hasrat mengendorkan urat syarat, bersantai dan mengisi waktu luang, tapi lama-kelamaan terpikir untuk menadu kepandaian antar satu sama lain. timbulah kompetisi, juga timbul hasrat bergabung dalam suatu kelompok.

Munculah nama-nama perkumpulan olahraga Bowling seperti : The Metropolitan Commercial, Berkat, Th. Cutter, Free Lance, Alexander, Amore Club, The Step, Aki Jenggot, Tjendana dan Biangos. Lahirnya berbagai klub mengilhami berdirinya suatu wadah organisasi, yang bisa mengawasi perkembangan klub dan memikirkan kemajuan olahraga ini dengan pemikiran ke depan, seandainya permainan bowling menyebar di seluruh Indonesia, seandainya pebowling Indonesia mau ikut bertanding ke luar negeri, tentu membutuhkan suatu wadah.
Maka atas prakarsa M. A. Suganda dari perkumpulan Bowling Metropolitan bersama M. Q. Amirudin, diundang semua klub untuk membicarakan pembentukan wadah. Tepatnya tanggal 6 Oktober 1970, klub yang hadir sepakat mendirikan suatu wadah organisasi yang diberi nama Persatuan Bowling Indonesia disingkat PBI.

Terjun payung


4 penerjun payung membentuk formasi skydiving, salah satu formasi terjun payung.

Terjun payung adalah aktivitas yang melibatkan terjun dari sebuah pesawat terbang menggunakan parasut yang dapat dibentangkan.

Sejarah awal terjun payung tidak jelas. Diketahui Andre-Jacques Garnerin membuat lompatan parasut dari balon udara panas di tahun 1797. Pertandingan awal dapat dilacak pada tahun 1930-an, dan menjadi olahraga internasional pada tahun 1951.

Sekarang terjun payung dilakukan sebagai aktivitas rekreasional dan olahraga kompetitif.

Jenis

Terdapat sejumlah jenis olahraga terjun payung

Lompat Tinggi

Lompat tinggi merupakan suatu lompatan untuk mencapai lompatan yang setinggi-tingginya. Ukuran lapangan sama dengan lompat jauh, Tinggi tiang mistar min 2.5 meter, Panjang mistar 3.15 m.

Dalam lompat Tinggi ada beberapa gaya yang dilakukan, sebagai berikut:
Gaya Gunting (Scissors)
Gaya gunting bisa dikatakan Gaya Sweney, sebab pada waktu sebelumnya (yang lalu) masih digunakan gaya jongkok. Tepatnya tahun 1880, selanjutnya tahun 1896 sweny mengubahnya dari gaya jongkok menjadi gaya gunting. Diganti karena kurang ekonomis.
Cara melakukan:
Si pelompat mengambil awalan dari tengah. Bila pelompat pada saat akan melompat, tumpuan pakai kaki kiri (bila ayunan kaki kanan), maka ia mendarat (jatuh) dengan kaki lagi. Waktu di udara badan berputar ke kanan, mendarat dengan kaki kiri, badan menghadap kembali ke tempat awalan tadi.

Gaya Guling sisi (Western Roll)
Pada gaya ini sama dengan gaya gunting, yaitu tumpuan kaki kiri jatuh kaki kiri lagi dan bila kaki kanan jatuhnyapun kaki kanan hanya beda awalan, tidak dari tengah tapi dari samping.

Gaya Guling (Straddle)
Pelompat mengambil awalan dari samping antara 3, 5, 7, 9 langkah Tergantung ketinggian yang penting saat mengambil awalan langkahnya ganjil.

Menumpu pada kaki kiri atau kanan, maka ayunan kaki kiri/ kanan kedepan. Setelah kaki ayun itu melewati mistar cepat badan dibalikkan, hingga sikap badan diatas mistar telungkap. Pantat usahakan lebih tinggi dari kepala, jadi kepala nunduk.

Pada waktu mendarat atau jatuh yang pertama kali kena adalah kaki kanan dan tangan kanan bila tumpuan menggunakan kaki kiri, lalu bergulingnya yaitu menyusur punggung tangan dan berakhir pada bahu.

Gaya Fosbury Flop
Cara melakukanya:
  • Awalan, harus dilakukan dengan cepat dan menikung/ agak melingkar, dengan langkah untuk awalan tersebut kira – kira 7-9 langkah.
  • Tolakan, Untuk tolakan kaki hampir sama dengan lompat tinggi yang lainya. Yakni, harus kuat dengan bantuan ayunan kedua tangan untuk membantu mengangkat seluruh badan. Bila kaki tolakan menggunakan kaki kanan, maka tolakan harus dilakukan disebelah kiri mistar. Pada waktu menolak kaki bersamaan dengan kedua tangan keatas disamping kepala, maka badan melompat keatas membuat putaran 180 derajat dan dilakukan bersama-sama.
  • Sikap badan diatas mistar, sikap badan diatas mistar terlentang dengan kedua kaki tergantung lemas, dan dagu agak ditarik ke dekat dada dan punggung berada diatas mistar dengan busur melintang.
  • Cara mendarat, mendarat pada karet busa dengan ukuran (5 x 5 meter dengan tinggi 60 cm lebih) dan diatasnya ditutup dengan matras sekitar 10 – 20 cm, dan prtama kali yang mendarat punggung dan bagian belakang kepala.
Yang diutamakan dalam melakuakan Lompatan ialah, lari awalan dengan kecepatan yang terkontol. Hindari kecondongan tubuh kebelakang terlalu banyak. Capailah gerakan yang cepat pada saat bertolak dan mendekati mistar. Doronglah bahu dan lengan keatas pada saat take off. Lengkungan punggung di atas mistar. Usahakan mengangkat yang sempurna dengan putaran kedalam dari lutut kaki ayun (bebas). Angkat kemudian luruskan kaki segera sesudah membuat lengkungan.
Atletik
Atletik

Bisa dikatakan bahwa atletik merupakan perwujudan dari moto Olimpiade, "Citius, Altius, Fortius", yang berarti lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat.

Dalam atletik, sang olahragawan diharuskankan untuk berlari lebih cepat, melompat lebih tinggi dan melempar lebih jauh dari lawannya. Dahulu kala di Olympia, perlombaan tersebut hanyalah lomba lari yang terkadang mempersulit pelarinya dengan memakaikan baju perang atau membawa tameng prajurit. Saat ini, atletik telah menjadi cabang olahraga yang cukup populer di turnamen olahraga. Termasuk dalam cabang atletik adalah jarak 100m hingga marathon 42.195km, dari lempar martil hingga lompat tinggi.

Arena atletik dibagi menjadi empat: jalur, jalan, lapangan dan gabungan.

Pada jalur termasuk: lari jarak pendek (100m, 200m, 400m), jarak menengah (800m, 1500m) dan jarak jauh (5000m, 10,000m), lari rintang (100m dan 400m untuk wanita, 110m dan 400m untuk pria), marathon (4 x 100m dan 4 x 400m) dan lari rintang 3000m.

  • Arena lapangan termasuk: lompat jauh, lompat tinggi, lompat galah, lempar lembing, lempar martil, tolak peluru, dll. Untuk Lompat galah dan lempar martil khusus wanita baru dimainkan pertama kali di Olimpiade Sydney 2000.
  • Arena jalan termasuk marathon untuk pria dan wanita, 20km dan 50km jalan cepat untuk pria dan 10km untuk wanita.
  • Gabungan: merupakan heptatlon untuk wanita dan dekatlon untuk pria. Para atlet bersaing pada sejumlah cabang jalur dan lapangan selama kurang lebih dua hari. Nilai diberikan berdasarkan banyaknya lomba yang berhasil diselesaikan ,oleh masing-masing dan peserta dengan nilai terbanyak adalah pemenangnya.

Mengenal Olahraga Atletik


Atletik adalah gabungan dari beberapa jenis olahraga yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi lari, lempar, dan lompat. Kata ini berasal dari bahasa Yunani "athlon" yang berarti "kontes".

Atletik adalah event asli dari Olimpiade pertama ditahun 776 sebelum Masehi dimana satu-satunya event adalah perlombaan lari atau stade. Ada beberapa "Games" yang digelar selama era klasik Eropa : Panhellenik Games The Pythian Game(dimulai6 Sebelum Masehi) digelar di Argolid setiap dua tahun.The Isthmian Game (dimulai 523 Sebelum Masehi) digelar di Isthmus dari Corinth setiap dua tahThe Roman Games Berasal dari akar Yunani murni, Roman Games memakai perlombaan lari dan melempar.

Awal sejarah Atletik di Indonesia tercatat pada permulaan tahun 1930-an, ketika Pemerintah Hindia Belanda memasukkan olahraga ini sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah. Di kalangan masyarakat belum tersebar luas, karena hanya dikenal di lingkungan pendidikan saja. Walaupun demikian, masyarakat lambat laun mengenal sifat dan manfaat olahraga ini dan dari hari ke hari penggemarnya bertambah.

Oleh kalangan Belanda telah dibentuk sebuah organisasi, yang akan menangani penyelenggaraan pertandingan-pertandingan Atletik dengan nama Nederlands Indische Athletiek Unie (NIAU).

Di Medan pada tahun 1930-an juga telah berdiri sebuah Organisasi bernama Sumatera Athletiek Bond (SAB), yang menyelenggarakan perlombaan-perlombaan Atletik antar sekolah Mulo, HBS dan perguruan-perguruan swasta. Perkembangan olahraga ini di Pulau Jawa ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi seperti ISSV Hellas dan IAC di Jakarta, PAS di Surabaya dan ABA di Surakarta.

Dalam mengikuti sejarah pertumbuhan dan perkembangannya, diperoleh kesimpulan bahwa Atletik Indonesia masih berumur setahun jagung. Akan tetapi berkat perananan NIAU pada zaman Belanda telah tampil bintang-bintang Indonesia yang dapat diandalkan, seperti Effendi Saleh, Tomasoa, Mochtar Saleh, M. Murbambang, Harun Al Rasyid, Mohd. Abdulah dan F.G.E. Rorimpandey.

Selama pendudukan Jepang, kegiatan cabang olahraga ini praktis terhenti. Dengan terbentuknya Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) pada awal tahun 1946, bagian Atletik dalam PORI segera menghidupkan kegiatan cabang olahraga menuju perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia yang baru merdeka.

Usaha nyata dibuktikan dengan terbentuknya Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) pada tanggal 3 September 1950 di Semarang. Kegiatan pertama tercatat pada akhir tahun 1950 juga dengan mengadakan perlombaan olahraga ini di Bandung.

Perlombaan tersebut sekaligus dimaksudkan sebagai persiapan atlet-atlet Indonesia menghadapi Asian Games I pada tahun 1951 di New Delhi. Organisasi Induk PASI telah diterima sebagai anggota Atletik Internasional (IAAF).

Dalam Asian Games I Tim Atletik Indonesia telah berhasil mendapatkan 5 medali perunggu sebagai berikut :

1. Lompat Tinggi : Sudarmojo

2. Lompat Jangkit :Hendarsin

3. Lempar Lembing : Matulessy

4. Lempar Cakram : Anni Salamun

Prestasi Nurbambang 10.8 m dalam lari 100 m baru dapat diperbaiki oleh sprinter M. Sarengat pada Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta dengan catatan 10.5 detik dan dengan demikian menjadi pelari tercepat Asia.

Selanjutnya dicatat beberapa pemecahan rekor nasional pada persiapan Asian Games IV dan Ganefo tahun 1963. Untuk menghadapi Olympiade Tokyo tahun 1964 dalam Asian Tour telah dipecahkan 6 rekor nasional, hal serupa diperoleh pada waktu Asian Games V tahun 1966 di Bangkok. Akan tetapi prestasi-prestasi tersebut belum dapat menyaingi prestasi Asia.

Sepak Bola Bukan Hanya Sekedar Olahraga

Goooooool…!!!

Akhirnya pada menit ke-116 gawang Maarten Stekelenburg pun jebol oleh tendangan Andres Iniesta. Beberapa menit kemudian berakhir sudah gelaran olahraga paling spektakuler di muka bumi ini dengan kemenangan tipis Sepanyol atas Belanda. Negeri matador itu akhirnya untuk pertama kalinya memboyong piala dunia sepak bola yang paling diinginkan setiap negara di seluruh dunia. Lambang supremasi pertandingan sepak bola yang diperebutkan negara-negara seluruh jagad.

Dengan berakhirnya acara paling akbar yang sudah ditonton beratus-ratus juta orang selama sebulan penuh itu, hari berikutnya pun akan menjadi hari-hari seperti biasanya. Tidak ada lagi acara nobar (nonton bersama) yang diselenggarakan di bebarapa tempat dari mulai kos-kosan, gang-gang kampung, pos-pos kamling, warkop-warkop, sampai di kafe-kafe. Tidak ada lagi acara begadang sampai pagi dan dengan begitu juga tidak ada lagi acara terkantuk-kantuk di kantor. Pentas spektakuler putaran final sepak bola sedunia itu memang sudah berakhir. Namun, semangat dan sportivitas pertandingan itu masih tertinggal. Sepak bola memang cabang olahraga yang sangat luar biasa.

Di luar sportivitas luar biasa itu, apa sebenarnya yang menjadikan sepak bola menjadi tontonan menarik yang bias umur dan bias jender? Dari anak-anak hingga manula; dari pria sampai wanita semua menggemari olahraga yang sekilas hanya berupa sekelompok orang secara rame-rame memperebutkan satu benda bulat yang disebut bola itu.

Setelah saya selami secara lebih mendalam dan mendetil (biasanya nggak pernah mikir sampai segitunya :) ), ternyata sepak bola tidak hanya sekedar olahraga yang di dalamnya bertanding dua kelompok atlet memperebutkan bola untuk dimasukkan ke dalam gawang masing-masing lawan. Tidak hanya itu. Ketika nonton final antara Sepanyol versus Belanda kemarin, akhirnya ketemulah filosofinya.

Mengapa saya berani mengatakan di balik permainan olahraga sepak bola ada sebuah filosofi? Ya, tentu itu tidak berlebihan karena cabang olahraga ini menurut saya sarat dengan nilai-nilai di dalamnya. Nilai-nilai apa saja yang ada dalam sebuah cabang olahraga seperti sepak bola itu?

Ada nilai-nilai yang berkaitan dengan individu. Secara individu setiap pemain bola atau disebut pesepak bola dituntut untuk memiliki keterampilan tinggi yang pada umumnya sesuai dengan posisi dia, sebagai bek, gelandang, penyerang, atau kiper. Setiap individu memiliki posisinya masing-masing. Sepanjang karirnya hanya akan memegang posisi terbatas karena setiap posisi harus memiliki keterampilan khusus yang tinggi meskipun ada pemain yang dapat dikategorikan serba bisa. Di samping itu, dalam perkembangan sepak bola modern dewasa ini seorang pemain sepak bola tidak melekat secara tetap pada posisinya. Tulisan ini akan jadi lebih panjang kalau dibahas secara detil masalah keterampilan individu ini. Yang jelas keterampilan tinggi masing-masing individu dalam sebuah tim sangat diperlukan, selain juga kemampuan intelektualnya.

Dalam sepak bola juga ada nilai-nilai yang berkaitan dengan kelompok atau bisa dibilang nilai sosial. Untuk menghasilkan sebual gol, masing-masing individu harus memiliki kemampuan bekerja sama yang tinggi. Tidak hanya itu, dapat menjaga gawangnya agar tidak kemasukan gol juga dibutuhkan kerja sama itu karena tidak bisa hanya mengandalkan kiper. Fungsi pemain dalam posisi bek tentu sangat diperlukan dalam hal ini. Tentu tidak gampang menjalin kerja sama yang baik dan solid di dalam sebuah “peperangan” merebut bola karena permainan sepak bola berbeda dengan bola voli yang dibatasi oleh net yang tidak memungkinkan pemain lawan berada satu lapangan dengan tim lain. Pun, tidak sama dengan olah raga bola basket yang dimainkan dalam lapangan yang tidak seluas arena sepakbola. Oleh karenanya, setiap individu yang sudah memiliki posisi-posisi tertentu sangat dituntut memiliki kemampuan tinggi dalam bekerja sama satu tim. Itu adalah bukan suatu hal yang mudah karena harus membangun kerja sama dalam tempelan ketat pemain lawan. Di sinilah nilai individu yang berkaitan dengan kualitas intelektual juga dibutuhkan. Taktik dan strategi membangun serangan secara berkelompok membutuhkan kemampuan intelektual itu.

Nilai ini juga tidak kalah pentingnya dalam olahraga sepak bola, yakni nilai-nilai hukum. Cabang olahraga ini melibatkan orang banyak yang terbagi dalam dua kelompok dan keduanya tidak dibatasi oleh apa pun seperti halnya permainan bola voli. Ketiadaan batas pemisah antara dua tim sepak bola yang sedang bertanding itu tentu rawan akan adanya perselisihan karena terjadi kontak fisik yang bahkan sampai mengakibatkan cedera. Untuk itu, diperlukan adanya aturan-aturan bermain yang sangat ketat di dalam lapangan. Ada aturan yang berkaitan dengan teknis, yaitu berkaitan dengan “rukun-rukun”nya sepakbola, seperti offside, hands ball, pelanggaran di kotak penalti atau di luarnya, bola keluar, penambahan waktu, babak tambahan, dan adu penalti. (Offside dan hands ball bahasa Indonesianya apa ya :) ) Ada juga aturan-aturan yang berkaitan dengan pelanggaran di luar teknis, misalnya adu fisik antarpemain, baik itu sengaja maupun tidak disengaja. Ada peraturan berarti pula ada sanksi. Sanksi-sanksi atas pelanggaran aturan-aturan itu ada yang berupa tendangan penalti, tendangan bebas, tendangan pojok, atau pemberian kartu kuning dan kartu merah. Nah, aturan-aturan yang dijalankan selama pertandingan itu diawasi oleh seorang hakim yang disebut dengan wasit yang bertugas mengatur dan mengawasi jalannya pertandingan yang berada di dalam lapangan. Wasit ini dibantu oleh beberapa hakim garis yang bertugas di sisi kiri-kanan lapangan. Pada umumnya pertandingan sepak bola yang berkelas dan berkualitas, seperti di Liga-liga Eropa, Champion Cup, Piala Eropa, atau Piala Dunia yang baru berakhir, berjalan dengan baik dan tertib karena barangkali mereka yang terlibat itu lebih memiliki sikap hukum yang positif. Bagaimana dengan dunia persepakbolaan di Indonesia? Silakan nilai sendiri :) .

Pertandingan sepak bola juga melibakan nilai-nilai psikologis. Dalam hal ini berupa semangat untuk memperjuangkan kemenangan tim. Selain itu, ada juga nilai sportivitas. Sprotif implementasi sederhanya adalah ketika bertanding tidak ada yang namanya adu mulut bahkan sampai adu jotos meskipun olahraga ini melibatkan kontak langsung antarpemain dari kedua tim yang berlaga. Istilah kerennya fair play. (:) Berarti dalam persepakbolaan Indonesia belum ada sportivitas, dong, karena masih digabung denan beladiri) Sepak bola juga bisa membangun ikatan emosi antara sebuah tim atau negara dengan suporter yang mendukungnya. Bahkan sampai menimbulkan fanatisme berlebihan. Ikatan emosi ini pun sampai lintas negara, misalnya orang-orang Indonesia yang mencintai tim sebuah klub atau negara lain. Nah, apabila tingkat kejuaraannya itu seperti final piala dunia seperti yang baru berakhir kemarin, terkandung nilai nasionalisme juga di dalamnya. Tim sepak bola setiap negara akan berjuang mati-matian membela bendera dan lagu kebangsaan masing-masing yang dibawa ke lapangan bola.

Apa ada yang kurang ya? Sepertinya sudah cukup :) . Kesemua nilai itu saling mendukung satu sama lain dan bermuara kepada satu hal yang disebut dengan gol. Aslinya dalam bahasa Inggris adalah goal. Gol sebenarnya tidak hanya sekedar bola yang ditendang dan masuk ke gawang lawan. Gol berarti juga sebuah tujuan atau target. Istilah goal mungkin diambil dari kata goal yang bermakna ‘tujuan’. Jadi, semua taktik yang diterapkan, keterampilan tertinggi masing-masing individu yang dikerahkan sampai titik keringat penghabisan, kerja sama yang solid dalam tim yang selalu dibina, dan di antara semua itu ada aturan-aturan yang harus ditaati, ada sanksi-sanksi jika aturan itu dilanggar, serta sportivitas, semuanya bermuara kepada satu tujuan, goal. Berusaha menjebol gawang dengan bola masuk lebih banyak daripada lawan bertanding.

Itulah nilai-nilai yang terdapat dalam pertandingan cabang olahraga sepak bola. Dalam mencapai sebuah gol yang tidak lain adalah satu tujuan, diperlukan adanya keterampilan yang tinggi masing-masing individu dalam sebuah tim serta mereka dituntut memiliki kemampuan tinggi dalam bekerja sama dengan orang lain, harus tertib hukum, harus sportif, dan harus tetap menjaga semangat. Dalam sepak bola tentunya tidak ada toleransi dengan yang namanya kecurangan. Yang perlu digaris bawahi, olahraga sepak bola melibatkan apa yang disebut dengan kompetensi tinggi individu, kerja sama tim, spirit, tertib hukum, sportifitas, kejujuran, dan target atau goal. Bolehlah dibilang semua itu sebagai intisari permainan sepak bola.

Berdasarkan itu, pelajaran apa yang dapat dipetik dari menonton dan menyukai olahraga sepak bola? Pecinta sepak bola sejati tentu tidak hanya sekedar punya klub atau tim negara favorit lengkap dengan hapal nama-nama pemain, pelatih, bahkan sejarah klub atau tim salah satu negara sampai dengan gemar mengoleksi pernak-perniknya. Pecinta sepak bola mestinya paham akan nilai-nilai yang ada di dalam cabang olah raga paling terkenal dan digemari di seantero jagad ini. Kalau ada pecinta bola yang masih suka tidak sportif, suka berbuat curang, tidak bisa bersosialisasi, nggak tertib hukum, berarti dia pecinta sepak bola palsu.

Dalam kehidupan sosial yang lain nilai-nilai yang terkandung dalam sepak bola dapat diadopsi. Seseorang yang berambisi menduduki posisi tertentu dalam bidang apa pun, misalnya, dan akan mengikuti pemilihan untuk menjadi seorang pemimpin alangkah baiknya juga menyontoh sistem olahraga sepak bola dalam mencapai sebuah goal; mencapai tujuannya itu. Dengan begitu, bermain fair akan terwujud dan kecurangan pun akan terhindarkan. Barangkali sebuah jabatan yang diperloleh dengan cara bersih akan berimbas juga kepada pelaksanaan tanggung jawab kepemimpinannya dengan bersih pula. Duh, senangnya kalau hal itu tercapai. Ya nggak?

Wadoh, sampai lupa. Kapan kita bisa bangga dengan timnas sepak bola kita? Satu kaliiiiiiii saja menjadi juara juga nggak apa-apa. Biar pernah. Ya, setidaknya juara SEA Games-lah kalau juara Asia masih jauh dari harapan (meskipun sudah pernah juara se-ASEAN, tapi itu kan dulu). Sekali lagi. Duh, senengnya kalau hal itu tercapai. Sekali lagi juga perlu ditanyakan. Ya nggak? :)

Aturan Baru Liga Basket Nasional

Kompetisi bola basket akan kembali bergulir dengan mengusung nama NBL (National Basketball League). Namun sebelum resmi dihelat, panitia akan terlebih dulu mengadakan preseason tournament yang akan digelar mulai 7-15 Juli 2010. Ajang ini sendiri dimaksudkan untuk mensosialisasikan aturan baru internasional.

Menyikapi peraturan baru yang baru akan diterapkan FIBA (Federasi Bola Basket Asia) yang baru akan diterapkan di Turki pada Agustus mendatang, sejumlah kalangan pun bertanya-tanya. Apakah kompetisi preseason ini bakal berlangsung dengan lancar?

Menanggapi hal ini, Azrul Ananda, direktur DBL Indonesia dan commissioner NBL Indonesia mengaku cukup optimistis bila aturan baru yang meliputi perubahan garis three point yang lebih jauh ini akan berjalan dengan lancar. Namun, Azrul menekankan bila sosialisasi aturan baru di preseason merupakan langkah agar setiap tim kontestan tak lagi asing saat digelarnya kompetisi reguler pada Oktober mendatang.

“Penyelenggara sudah mulai intensif mempersiapkan IBL baru sejak Januari 2010. Kami sudah menyiapkan berbagai regulasi dan penyelenggaraan. Preseason ini akan menjadi masa uji coba penyelenggara, bekerja sama dengan klub dengan formasi yang sekarang, untuk menghadapi musim regular, kata Azrul seperti dalam rilis, Selasa (6/7).

“Dan melihat animo masyarakat Indonesia melalui perkembangan DBL di berbagai kota di Indonesia, penyelenggara merasa optimistis dengan liga basket professional Indonesia. Preseason ini merupakan masa uji coba penyelenggara bekerjasama dengan klub dengan formasi yang sekarang untuk menghadapi musim reguler,” tandasnya.